Journey of Abah

November 13 jam 5.22 Pm.
Tepat hari Senin ini saat pagi hari menjelang rasanya mod saya sedang kurang bagus

alangkah lebih kurang bagus lagi akibat mengetahui ayah atau saya sering bilang “Abah” dalam sebutan bahasa Sunda sedang terbaring sakit.

entah gerangan kenapa atau mungkin karena terlalu capek mengurus ladang dan hewan ternaknya.

Hal itu yang sering saya takutkan ketika tidak ada sosok seorang ibu.

Bagaimana jika abah jatuh sakit, bagaimana jika abah sedang berpikir sesuatu hal yang selalu jadi pikirannya.

Sekilas tentang Abah, Abah memang sosok orang yang tertutup terhadap segala sesuatu hal dia lebih senang berpikir dan bertindak sendiri, satu atau dua patah kata saja dalam kesehariannya ketika itu berbincang dengan saya anaknya sendiri.

Tak segan Abah menggantikan sosok seorang ibu Dimata saya mulai dari memasak makanan mulai dari memasak nasi dan lauk seadanya dan kadang hanya mie instan saja.

Tinggal hanya berdua saja dengan Abah tidak begitu rumit bahkan cenderung sama pun ketika masih ada ibu atau biasa saya sebut emak.

Hanya satu hal yang saya takutkan satu hal saja.

Saya paling tidak kuat melihat Abah jatuh sakit dan hanya terbaring saja dikamar seharian, hari ini saya bergegas mencari obat dan berbagai keperluan untuk setidaknya meredakan sakit yang dialami Abah.

Tak tega rasanya meninggalkan Abah dirumah sendiri dengan keadaan sakitnya.

Tapi saya memiliki tanggung jawab sebagai pekerja disalah satu lembaga pendidikan tersebut tak baik pula rasanya ketika tidak masuk dalam beberapa hari kerja di Minggu kemarin.

Mudah mudahan hari ini pulang bisa lebih cepat.

agar bisa menemani Abah di rumah.

Pikirsaya tapi ternyata tidak demikian dengan kenyataan, hujan deras disertai petir yang suaranya begitu kencang membuat saya terhenti ditempat kerja lebih tepatnya di sekolah.

Takut rasanya ketika pulang dijalan sedang hujan deras tapi takut juga Abah kenapa-kenapa dirumah sendirian nantinya.

Sekitar jam 4.00 PM hujan mulai reda dan saya bergegas pulang dengan mengenakan jas hujan.

perjalanan dari sekolah ke rumah lumayan jauh memakan waktu kurang lebih 30 menit lamanya ketika hujan.

Tiba lah dirumah, saya bergegas kembali melihat Abah di kamarnya ternyata benar dugaan saya.

Dia tidak kunjung meminum atau memakan sesuatu pun bahkan obat yang saya beli hanya diminum pas saya suruh pada pagi hari.

Nasi pun belum ada yang ada hanya mie instan dan untung saja saya membeli makanan berupa pisang nugget waktu kemarin dari teman

yang sekiranya enak untuk dimakan orang yang sedang sakit dan mengenyangkan perut abah.

Mulai dari memasak nasi menghangatkan pisang tersebut dan menyiapkan minuman serta obat yang sudah dibeli untuk diminum Abah saya lakukan sendiri.

Tapi hal baiknya, saya memang terbiasa dengan keadaan tersebut karena dari kecil saya selalu belajar bagaimana memasak nasi atau memasak apapun dan menyiapkan apapun dengan bahan seadanya.

Biasanya jika Abah sehat Abah dan saya biasa bergantian menyiapkan segala kebutuhan baik masak atau pun mencuci dan lain sebagainya.

Mudah-mudahan Abah cepat kembali sehat setelah istirahat jikalau tidak membaik juga,
Besok hari saya bawa ke dokter untuk diperiksa.

Catatanuntuk seseorang:

aku dan Abah selalu mendoakan mu di sana dan jangan khawatir kan kami di sini karena kami baik-baik saja.

Baca posting lainnya